Wejangan Paus Fransiskus Tentang Hari Raya SP Maria Diangkat ke Surga

KATEKESE KATOLIK
WEJANGAN PAUS FRANSISKUS TENTANG HARI RAYA SANTA PERAWAN MARIA DIANGKAT KE SURGA

 

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Dalam Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat Ke Surga hari ini, umat Allah yang setia dan kudus mengungkapkan dengan sukacita penghormatan mereka terhadap Bunda Maria. Mereka melakukannya dalam liturgi secara bersama-sama dan juga dalam ribuan rupa cara kesalehan; serta dengan demikian, nubuat Maria sendiri menjadi kenyataan : “Segala keturunan akan menyebut aku berbahagia” (Luk 1:48), karena Tuhan telah memperhatikan hamba-Nya yang rendah hati.

Diangkat ke surga, dengan jiwa dan raga, adalah keistimewaan ilahi yang diberikan kepada Bunda Allah yang kudus oleh karena persatuannya yang khusus dengan Yesus. Ini adalah persatuan jasmani dan rohani, yang dimulai dengan Kabar Sukacita dan dimatangkan sepanjang kehidupan Maria, melalui keikutsertaannya dalam misteri Putranya. Maria selalu berjalan dengan Putranya : ia berjalan di belakang Yesus, dan kita mengatakan dialah murid-Nya yang pertama.

Kehadiran Bunda Maria terhampar seperti kehadiran perempuan mana pun di zamannya : ia berdoa, mengurus keluarga dan rumah, pergi ke Sinagoga … Tetapi, sehari-hari ia melakukan setiap tindakan dalam kesatuan penuh dengan Yesus. Dan persatuan ini mencapai puncaknya di Kalvari dalam kasih, dalam kasih sayang dan dalam penderitaan hati. Oleh karena itu, Allah memberikan kepadanya keikutsertaan penuh dalam kebangkitan Yesus. Raga Bunda Allah yang kudus, seperti raga Sang Putra, dilindungi dari kerusakan.

Hari ini Gereja mengajak kita untuk merenungkan misteri ini : Gereja menunjukkan kepada kita bahwa Allah berkeinginan untuk menyelamatkan seluruh manusia, yaitu, menyelamatkan jiwa dan raganya. Yesus dibangkitkan dengan raga yang yang Ia terima dari Maria, dan Ia terangkat ke Bapa dengan kemanusiaan-Nya yang berubah rupa. Dengan raga, raga seperti raga kita, tetapi raga yang berubah rupa. Pengangkatan Maria, makhluk manusia, menegaskan kepada kita apa takdir mulia seperti digambarkan oleh Yohanes dalam Injilnya. Mereka sudah ditolong diberi makan guna memenuhi kebutuhan dalam perjalanan mereka yang mengikuti Yesus. Tetapi Yesus mau menunjukkan kepada mereka, bahwa bukan hanya makanan dan minuman biasa yang mereka perlukan, melainkan juga makanan dan minuman khusus sebagai sumber hidup yang tak akan pernah kering.

Untuk memenuhi kehausan dan kelaparan abadi yang ada di dalam diri manusia itulah Yesus menampilkan diri sebagai “roti dari surga”. Ia diutus Bapa untuk tinggal di antara kita dalam hidup sekarang ini, tetapi bukan hanya untuk memberi kekuatan jasmani dengan makanan sementara, melainkan juga makanan untuk memperoleh sumber hidup yang tak pernah kering.

Bagi kita itu terwujud dalam penerimaan ekaristi. Sakramen ekaristi adalah intisari penghayatan iman kita yang sebenarnya. Ekaristi adalah lambang kenyataan diri Yesus sebagai sumber hidup sejati kita. Yesus mengundang kita dalam perayaan ekaristi untuk menerima diri-Nya sendiri sebagai  tubuh  dan darah-Nya. Artinya  kita  sungguh menerima pribadi-Nya, yang pernah hidup di dunia ini dengan tubuh dan darah manusiawi seperti kita. Ia memberikan diri-Nya, mencurahkan darah-Nya demi keselamatan kita.Yesus hadir bagi dan di tengah kita dalam perjamuan ekaristi, sebagai sumber hidup kita yang tak akan kering. Dalam misa kudus lewat perantaraan imam, Yesus sendirilah yang hadir untuk mempersembah korban kepada Allah Bapa. Tetapi sekaligus korban yang dipersembahkan kepada Allah, untuk dibagikan kepada umat-Nya ialah diri-Nya sendiri: tubuh dan darah-Nya. Kristus yang satu dan utuh itu diberikan kepada kita semua. Kita yang banyak disatukan, menjadi satu dengan Kristus dan dengan kita semua.
         

Apa konsekuensi penerimaan ekaristi bagi kita?

Bila kita sungguh percaya bahwa menerima ekaristi berarti menerima pribadi Yesus sendiri, maka kita juga bersatu, menjadi satu dengan Dia. Yesus sungguh menjadi sumber hidupku. Artinya: hidupku harus merupakan hidup Yesus Kristus sendiri. Segenap sikap, hidup, kata dan perbuatanku harus kuusahakan sebagai ungkapan atau perwujudan sikap, hidup, kata dan perbuatan Yesus sendiri. Bersatu dengan Kristus berarti bersatu pula dengan sesama kita siapapun, yang juga menerimanya.

Betapa  mendalam dan tak  terperikan  makna penerimaan ekaristi bagi kita, yang masih harus menempuhkan perjalanan hidup yang masih jauh, namun dibekali dengan makanan dan minuman rohani yang tak kunjung habis! Bukan hanya memperkuat diri kita sendiri, tetapi sekaligus saling membantu dengan sesama kita. Bukankah permusuhan antar kita, yang bersama-sama menerima Kristus yang sama, sungguh bertentangan dengan kasih Kristus sendiri?

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

Sumber: http://www.imankatolik.or.id/

Please follow and like us: