Tanda Salib

TANDA SALIB

Di kalangan Gereja Katolik, cara membuat tanda salib yang resmi adalah dengan menyentuh dahi, lambung, bahu kiri, dan berakhir di bahu kanan, sambil berkata, “Demi, nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus, amin.” Ini berlaku di seluruh dunia. Mengapa yang lebih tepat adalah cara resmi itu. Yah, sering kali tata cara keagamaan adalah suatu peraturan yang ditentukan oleh pimpinan Gereja berdasarkan alasan yang kuat, atau berdasarkan kebiasaan kuno. Kebiasaan membuat tanda salib sudah dimulai sejak abad kedua. Dengan membuat tanda salib, orang Kristen hendak melakukan sesuatu dalam persatuan dengan Allah Tritunggal Maha Kudus Dalam Perjanjian Baru berbahasa Yunani dikenal ungkapan en too onomati (=dalam nama) maupun eis to onoma (=ke dalam nama). Praktis kedua ungkapan ini mengungkapkan gagasan yang sama. Sebagai contoh, menurut Kisah 10:48 orang dibaptis dalam nama Yesus Kristus (en too onomati lesou Christou) artinya dalam persatuan dengan Kristus; sedangkan menurut Kisah 19:5 orang dibaptis “ke dalam nama Tuhan Yesus” (eis to onoma lesou Christou), artinya ke dalam persatuan dengan nama Yesus. Patut dicatat bahwa dalam bahasa Alkitab “nama” praktis sama dengan “pribadi” orang itu sendiri. Jadi, “dibaptis dalam nama Yesus” berarti dibaptis dalam (persatuan dengan) Yesus. “Dimuliakanlah nama-Mu” sama artinya dengan “Dimuliakanlah Dikau”

Rumusan tanda salib dalam bahasa Indonesia “Dalam nama Bapa..” atau “Demi nama Bapa…” sebenarnya hendak menerjemahkan ungkapan en too onomati maupun eis to onoma. Kita mengawali satu perbuatan dengan tanda salib untuk menyatakan bahwa kita melakukan hal itu dalam persekutuan dengan Allah Tritunggal. Rumusan “Atas nama Bapa..” banyak ditinggalkan orang karena rumusan ini memberikan kesan, seakan-akan kita ini akan melakukan sesuatu sebagai wakil Allah Tritunggal.

Pertanyaan seputar tanda salib

Tidak semua praktek keagamaan Katolik berasal dari Yesus atau para Rasul sendiri, meskipun semangat praktek gerejawi tentunya tidak boleh bertentangan dengan ajaran Yesus atau para Rasul. Pembuatan tanda salib baru dikenal orang sejak abad kedua. Dari sini bisa disimpulkan bahwa Yesus dan para Rasul belum mengenal tanda salib. Dalam Perjanjian Baru tidak ada ayat yang menyebut bahwa Yesus dan para Rasul sebelum dan sesudah berdoa membuat tanda salib.

“Apakah saat Yesus mengajar doa pada waktu Ia berkarya di dunia dimulai dan diakhiri juga dengan tanda salib?” 

Tidak semua praktek keagamaan Katolik berasal dari Yesus atau para Rasul sendiri, meskipun semangat praktek gerejawi tentunya tidak boleh bertentangan dengan ajaran Yesus atau para Rasul. Pembuatan tanda salib baru dikenal orang sejak abad kedua. Dari sini bisa disimpulkan bahwa Yesus dan para Rasul belum mengenal tanda salib. Dalam Perjanjian Baru tidak ada ayat yang menyebut bahwa Yesus dan para Rasul sebelum dan sesudah berdoa membuat tanda salib.

“Mengapa umat Katolik membuat tanda salib sebelum dan sesudah makan di rumah makan? Bukankah hal itu akan mengundang perhatian orang banyak seperti orang Farisi yang gemar pamer?”

Dengan membuat tanda salib sebelum dan sesudah makan , kita mau mengungkapkan bahwa kita makan dalam persatuan dengan Allah Tritunggal atau demi kemulian-Nya. Melakukan kewajiban di depan mata orang tidak dilarang. Malah Yesus dalam Matius 5:16 berkata  “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu di surga.,” Yang dilarang Yesus adalah orang dengan sengaja melakukan kewajiban agama dengan maksud untuk pamer saja. Jadi, ada perbedaan antara melakukan kewajiban agama di depan orang dan melakukan kewajiban agama supaya dilihat orang. 

Apakah maksud orang Katolik mencelupkan jari ke air suci lalu membuat tanda salib?” 

Membuat tanda salib dengan air yang disediakan di dekat pintu masuk Gereja bertujuan mengingatkan kita pada Sakramen Baptis yang menyucikan kita dari dosa-dosa.

***