Beriman kepada Yesus : Membagikan Kebahagiaan kepada Semua Orang 

Jabrik: “ Thus, kenapa orang susah percaya sama Yesus ya ? “ Kenthus: “ Karena orang tidak kenal sama dirinya sendiri ? ” Jabrik: “Lho, koq bisa,Thus ?”  Kenthus: “ ya bisa toh.”

Setiap orang senang mendengar kabar baik. Misalnya, anaknya lulus ujian. Tanpa perlu bertanya terlebih dahulu bagaimana cara anaknya dapat lulus ujian. Padahal orangtua tahu kalau dalam kesehariannya anaknya malas belajar, tidak pernah nilainya merah kurang dari satu. Inilah sebuah kenyataan hidup dalam kebersamaan kita.

Fakta yang benar di balik berita tidak penting. Asalkan anak sudah lulus, jadilah. Mau anak nyontek, beli jawaban, dibantu guru atas nama sekolah – biar tahun ajaran baru sekolah banyak peminat karena bisa meluluskan 100% murid- bukan urusan orangtua. Pokoknya anaknya Lulus. Titik.

Sungguh membahagiakan jika cara berpikir tersebut kita bawa dalam kehidupan beriman kita. Soal Yesus bangkitnya bagaimana bukanlah masalah buat iman kita. Hal terpenting bagi kita adalah kita mengakui bahwa Yesus benar-benar Allah yang setia mendampingi kita.

Kehadiran-Nya betul-betul dapat kita rasakan dan membuat kita bahagia.  Orang lain di luar sana terserah mau mengatakan apa saja tentang Yesus. Karena bagi kita Yesus adalah Satu-Satunya Penyelamat kita yang hidup. Yesus meraja dan berkuasa atas hidup manusia dan dunia ini.

Kebangkitan yang diwartakan dalam Bacaan-bacaan pada Minggu Paskah ke – 3 ini mengajak kita untuk berani menyadari kebesaran Yesus dan mewartakan-Nya dalam hidup kita kepada semua orang. Kita yang sudah dibangkitkan dari rasa lemas beriman, malas berbuat benar sudah waktunya tampil beda. Kita yang dulu takut sekarang harus dengan  gagah berani menyatakan iman kita dalam sikap hidup kita tanpa kenal lelah. Seperti 2 murid yang telah disadarkan Yesus yang bangkit ketika berjalan ke Emaus.

Meski kita tidak berjumpa nyata dengan Yesus sebelum atau sesudah bangkit namun pernyataan kehadiran Dirinya selalu kita jumpai, rasakan dan alami dalam Perayaan Ekaristi dan dalam kebersamaan bersama keluarga atau dengan saudara-saudari kita ketika berkumpul di di dalam Nama-Nya. Dengan demikian kebangkitan Yesus benar-benar membuka mata hati kita sehingga tidak ada lagi sekat-sekat yang membuat kita saling curiga, mendendam, iri hati, tamak, dan lain sebagainya. Karena pengorbanan Yesus telah membayar semua derita duka cita akibat dosa kita dengan menggantikannya menjadi suka cita.

Tugas kita sekarang sebagai pengikut-Nya adalah mewartakan kebangkitan-Nya dengan cara membagikan kebahagiaan kepada semua orang tanpa terkecuali. Syaratnya, kenalilah diri kita terlebih dahulu dengan segala kelemahan- kekurangan dan kekuatan-kelebihannya. Jika kita mampu mengenal semua itu lanjutkanlah dengan menerimanya dalam rasa syukur. Setelah itu cintailah dirimu apa adanya supaya dirimu dapat mencintai orang lain secara apa adanya pula. Dengan demikian Yesus yang belum pernah kita alami secara nyata dapat kita jumpai dalam diri saudara-saudari kita yang juga tidak lepas dari kekurangan-kelemahannya.

Menerima diri sesama apa adanya sama dengan membagikan kebahagiaan dari Allah karena dicintai yang ada pada kita kepada orang lain. Dengan cara ini kita sudah melaksanakan Perintah Yesus, Cintailah Tuhan Allahmu melalui cinta kepada sesama dengan segenap hatimu di mana Allah hadir dalam dirimu dan dirinya. Cintailah sesamamu seperti engkau mencintai dirimu apa adanya dengan kekurangan – kelemahan serta kelebihan – kekuatan yang ada pada masing-masing diri kita sebagai manusia bagi sesama untuk saling melengkapi.

Buktikan kalau kita beriman. Bukan besok tetapi sekarang.

Tuhan Memberkati,

RP Antonius Dwi Raharjo, SCJ

Please follow and like us: