Sejarah Gereja St Teresia Jambi

PERJALANAN SEBUAH MISI

Jauh sebelum berdirinya pos misi, umat Katolik cukup banyak berdiam di Jambi. Jumlahnya mencapai 59 orang pada 1909. Penduduk Jambi pada waktu itu belum sampai 200.000 jiwa yang terdiri dari etnis Palembang, Jawa, Minangkabau, Batak, Banjar, Bugis, Arab, dan Tionghoa. Jumlah orang Tionghoa yang datang ke Jambi semakin banyak karena tertarik memanfaatkan besarnya potensi alam daerah itu.

Perjalanan pastoran pertama ke Jambi berlangsung pada 1913 oleh Pastor Remigius van Hoof, seorang imam Kapusin. Sebagian besar pemeluk Katolik pada saat itu merupakan orang-orang Eropa dan Tionghoa. Namun, mereka sama sekali tidak terkait misi keagamaan. Orang-orang Eropa ini berada di sana karena bekerja pada areal tambang minyak. Adalah perusahaan minyak Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) berkongsi dengan pemerintah Hindia Belanda. Mereka mendirikan perusahaan minyak Nederlancsh-Indische Aardolie Maatschappij (NIAM) untuk mengeksplorasi minyak di wilayah tengah Jambi pada 1921. Hasil minyak dialirkan melalui pipa-pipa ke Plaju dan Sungai Gerong, Sumatera Selatan.

Meski terletak di jantung Sumatera, Jambi daerah yang sulit dijangkau. Membentang 350 kilometer dari timur ke barat dan 220 km dari utara ke selatan, wilayah ini umumnya hanya dapat dicapai melalui jalur air yakni Sungai Batanghari dan pantai timur. Itu sebabnya, Jambi menjadi daerah pembukaan pos misi paling terakhir di wilayah Sumatera bagian Selatan.

Karya misi imam-imam Kapusin berakhir setelah imam-imam Kongregasi Hati Kudus Yesus (SCJ) datang ke Tanjung Sakti (Bengkulu). Jambi mendapat kunjungan pastoral resmi berikutnya pada Juni 1925 oleh Pastor Henricus van Oort, SCJ. Pada tahun itu, van Oort telah bertugas di Palembang. Jambi menjadi stasi bagi Pos Misi Palembang.

Dalam bukunya berjudul “Uit Sumatra”, van Oort mengisahkan kunjungan pertamanya menempuh perjalanan darat dan air sejauh 1.000 kilometer. Dari Palembang menuju Lubuk Linggau (Sumatera Selatan), dilanjutkan ke Sarolangun, dan akhirnya sampai di Kota Jambi. Sebuah rute perjalanan yang berat dan memutar, menembus hutan belantara.

Pada kedatangan ketiga di tahun 1932, van Oort ditemani Bruder Felix van Langenberg membeli sebidang tanah dan rumah di Jalan Taman, Kota Jambi. Rumah panggung yang terbuat dari papan itu merupakan asrama para anggota KNIL Belanda. Rumah itulah yang dijadikan gereja dan pastoran. Mereka menamainya Gereja St Theresia dari Kanak-kanak Yesus (H Theresia v.h. Kindje Jezus).

1

Gbr.1 Bangunan gereja di Jalan Taman. Tempat ini sekarang adalah  Biara FMM dan Rumah Sakit Teresia Jambi. (foto koleksi DPP)
2

Gbr.2. Misa Kudus di gereja yang masih sederhana di Jalan Taman pada 19 Juni 1949 (foto koleksi DPP)

Jambi menjadi pos misi baru dalam Perfektur Apostolik Bengkulu secara resmi pada 16 Januari 1935. Van Oort menjadi pastor pertamanya. Pada saat itu, umat Katolik sudah berjumlah 177 orang, terdiri atas 127 orang Eropa serta 50 orang Pribumi dan Tionghoa. Selama tahun 1936, tercatat dalam Buku Baptis sebanyak 30 orang dipermandikan, selain 22 orang yang sudah dipermandikan tahun-tahun sebelumnya. Setahun kemudian, 13 orang dipermandikan, tahun 1938-1939 bertambah 20 orang.

Tak lama setelah pos dibuka, van Oort pindah ke Palembang untuk menggantikan Mgr Henricus Mekkelholt yang cuti ke Belanda. Bruder Felix juga kembali ke Belanda karena sakit.

Adalah Pastor Nicolaus Hoogeboom yang bertugas menggantikan van Oort. Hoogeboom tiba di Jambi, Mei 1935. Bruder Gabriel Agustinus Knirim kemudian menyusul. Hoogebom langsung membentuk Dewan Gereja (kerk armbestuur) yang diketuai langsung oleh dirinya. Dewan ini beranggotakan H. Van Schendel, J. Van Garling, dan Th. Tan Ah Hoat.

Keberadaan pos misi Jambi tidak hanya untuk memperluas penggembalaan. Para misionaris atas bantuan Dewan Gereja melaksanakan sejumlah karya kemanusiaan di bidang kesehatan hingga pendidikan. Sebagai contoh, Hoogeboom membuka sekolah Hollandsche Chineesche School (HCS) dan Froebel-school untuk anak-anak Tionghoa. Sebagian ruang pastoran dipakai untuk kegiatan belajar mengajar. Hoogeboom kemudian membangun secara khusus sekolah-sekolah itu di belakang pastoran.

Selain HCS dan Frobel-school (setingkat sekolah dasar dan taman kanak-kanak), sebuah sekolah lagi dibangun dengan nama Ta Tung Schoolen. Seluruh guru dan siswanya juga orang-orang Tionghoa. Sebagai salah satu cara Hoogebom mendekatkan budaya, agama, dan pendidikan, sekolah ini menggunakan bahasa pengantar Tionghoa.

Hoogeboom menyadari etnis Tionghoa memiliki peranan kuat dalam pembangunan Jambi. Dalam bidang ekonomi, posisi warga Tionghoa sangat strategis karena banyak dari mereka mengendalikan beragam sektor usaha. Tidak sedikit pula keturunan Tionghoa menyatakan minat dan memeluk Katolik. Namun, dalam bidang pendidikan, masih sedikit orang tua yang menyekolahkan anak-anaknya. Mereka cenderung memandang anak berguna dengan membantu orang tua bekerja.

Hoogebom memutuskan untuk belajar Bahasa Tionghoa selama tiga bulan di Singapura tahun 1937. Setelah kembali lagi ke Jambi, Hoogeboom membaptis sembilan orang Tionghoa, yaitu Tsi Hai Sung, Tsi Hong Tek, Tsi Hong Hoa, Tsi Be Tsu, Ng Bway Seng, Ng Kwie Wiu, Tio Tsung Hiang, Wog Kwee Ling, dan Won Kwee Lin. Hoogebom mengutus mereka sebagai pekerja Tuhan atau kerap disebut sebagai “Para Rasul”.

Sembilan rasul itu berbagi tugas melakukan pelayanan gerejawi. Pada saat sekarang, mereka bisa dibilang menjalankan fungsi Prodiakon/Tarsisian. Tugasnya adalah melaksanakan pelayanan doa menyebarkan misi Katolik pada wilayah-wilayah yang bisa dijangkau. Para rasul umumnya adalah guru sekolah dan pedagang di pasar. Di tengah kesibukan rutin, mereka tetap membantu pelayanan di gereja dalam kegiatan misa sehari-hari.

Dari semuanya itu, misi sosial rupanya lebih menyentuh kesadaran warga untuk memilih jalan Katolik. Pastor Hoogebom dan rasul menjenguk seorang warga non-Katolik yang menderita sakit parah di Tanjung Pinang, Kota Jambi sekitar tahun 1959. Pada waktu itu, keluarganya hampir tak punya harapan lagi. Hoogebom kemudian mendoakan dan mengurapinya dengan minyak suci. Mukjizat terjadi. Orang tersebut sembuh dari sakitnya. Sebagian keluarganya yang melihat dengan sangat takjub, serta merta meninggalkan tapekong. Mereka berganti memeluk salib Yesus.

Pernah juga di awal tahun 1960, pastor mengunjungi dua umat yang menderita kolera di daerah Jelutung. Kondisi keduanya nyaris tanpa harapan hidup. Lalat berterbangan karena bau busuk yang ditimbulkan dari penyakit tersebut. Ketika Pastor Hoogebom datang menjenguk, banyak orang menantikan di luar rumah. Hoogebom mendoakan dan mengurapi mereka dengan minyak suci. Satu lagi mukjizat terjadi, penyakit parah tersebut sembuh. Peristiwa itu mengundang kehebohan para tetangga. Sebagian dari mereka takjub dengan kuasa Roh Kudus, lalu meminta dibaptis.

Di saat kegiatan misionaris tengah bertumbuh, Hoogeboom diminta kembali ke Belanda untuk jabatan baru sebagai Procurator Misi SCJ Belanda. Penggantinya di Jambi adalah Pastor Fransiscus Hovers. Imam SCJ lainnya, Pastor Johannes Welage diutus ke Jambi menangani sekolah HCS yang selama ini ditangani langsung oleh Hoogebom. Namun,Welage tidak bertahan karena penyakit paru-paru. Dirinya dirawat di Bandung selama 6 bulan.

Pastor Geraldus Koevoets yang sebelumnya melayani di Tanjung Sakti, pindah ke Jambi pada April 1940. Pada masa ini, pengembangan misi Katolik di daerah semakin menguat. Koevoets misalnya, rutin mengunjungi daerah-daerah pedalaman setiap 3 bulan sekali. Pelayanan Pos Misi Jambi meluas hingga ke wilayah Tempino, Bajubang, Muara Tembesi, Muara Tebo, Bungo, Bangko, Sarolangun, dan Kuala Tungkal. Wilayah ini umumnya merupakan area pertambangan.

MASA-MASA SULIT

Hingga menjelang pecah Perang Dunia II, Katolik di Jambi bertumbuh pesat. Jumlah umat mencapai 318 orang, terdiri atas 103 orang Eropa dan 215 pribumi. Namun, misi Katolik di Jambi segera menghadapi situasi sulit selama dan setelah pendudukan Jepang. Kondisi seperti ini terjadi merata pada seluruh daerah di Indonesia.

Tentara Jepang menganggap para misionaris dan umatnya sebagai bagian dari Hindia Belanda, sehingga harus disingkirkan. Mereka ditangkap dan dimasukkan ke dalam kamp-kamp tahanan atau penjara. Kondisi dan penderitaan para tahanan sangat menyedihkan. Sejumlah misionaris meninggal dunia secara menyedihkan di sejumlah kamp, termasuk diantaranya Pastor van Oort, perintis misi di Jambi.

Pastor van Oort meninggal dunia dalam keadaan mengenaskan di kamp interniran Muntok, 27 November 1944. Sebuah catatan mengisahkan akhir kematiannya seperti ini: “Sampai akhir hidupnya, sikapnya kuat dan berani. Pada awalnya ia tidak pernah menderita demam. Namun pada saat tertentu ia teserang demam yang tak kunjung hilang. Menurut dokter Ia terserang penyakit paru-paru. Ia diopename di rumah sakit di kamp. Kedua kakinya bengkak. Ia menderita disentri dan semakin lemah. Meski sakit, ia selalu ingin bekerja di kebun sampai tidak mampu lagi. Setelah menerima sakramen minyak suci dan memperbaharui hidup membiara, ia meninggal pada usia 50 tahun.” (M. Neilen, “De eerste berichten,” MP 1 (1945): 7).

Hingga berakhirnya masa pendudukan Jepang, perkembangan Gereja masih terhambat. Kali ini, para pejuang kemerdekaan menilai kehadiran orang-orang asing sebagai penjajah atau lawan.

Ketika mendengar kondisi menyedihkan di Tanah Air, Pastor Hoogeboom yang sedang berada di Malaysia segera kembali ke Jambi awal 1949. Hoogebom berusaha mencegah para pejuang kemerdekaan yang akan mengambil alih dan menguasai tanah dan bangunan yang sudah dimiliki misi sebelum perang. Hoogebom meyakinkan para pejuang dan Pemerintah Indonesia, bahwa Misi Katolik tidak identik dengan Pemerintah Belanda.

Kembalinya Hoogeboom memberi harapan baru bagi umat. Misi pun dapat berjalan kembali. Sambil melanjutkan karya misi melalui pendidikan, Hoogebom mengadakan kontak dengan suster dari kongregasi Fransiskan Misionaris Maria (FMM) di Bogor untuk membantu karya misi pendidikan dan kesehatan di Jambi.

Pada 20 Oktober 1952, tiga suster FMM tiba di Jambi. Mereka adalah Muder Maria Marcela dari Polandia, Suster Maria Vinanzia dari Carmen, Italia, dan Suster Maria Salome dari Tiongkok. Pada bulan Desember 1952 datang lagi dua orang suster, yaitu Muder Ennemond Marie dari Perancis dan Muder Theonesta dari Jerman.

Para suster membuka sekolah Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar Xaverius. Mereka juga membuka poliklinik dan rumah sakit bersalin, yang kelak berkembang menjadi Rumah Sakit St. Theresia Jambi sekarang.

3

Gbr.3 Rumah Sakit St Theresia Jambi Tahun 1963
4

Gbr. 4 RS St Theresia Jambi sekarang

RS Teresia Jambi Tahun 2010.

5

Gbr 5. Parade Golongan Katolik pada perayaan HUT RI di Jambi
6

Gbr 6. Parade Golongan Katolik pada perayaan HUT RI di Jambi
7

Gbr 7. Partisipasi para anggota Golongan Katolik pada perayaan HUT RI di Jambi

Saat itu, partai politik mempunyai peran dalam pemberian izin pendirian rumah ibadat. Hanya satu partai—dari sembilan partai politik yang diakui pemerintah—yaitu Masyumi, yang tidak bersedia memberikan izin pendirian gereja yang permanen. Namun, atas kegigihan Pastor Hoogeboom, pembangunan gereja bisa dilanjutkan.

Atas kebaikan Gubernur Yusuf Singadikane, seluruh partai bersedia menyetujui, dan Gubernur memberikan izin pendirian gereja yang permanen. Dengan mendapatkan izin tersebut, Pastor Hoogebom semakin bersemangat mencari dana dari para donatur. Pada akhirnya, gereja selesai dibangun dan diresmikan oleh Uskup Palembang, Mgr. Yosef Soudant, SCJ pada 12 Juli 1964. Itulah gereja di Jalan Raden Mattaher yang tetap megah berdiri sampai sekarang.
Jumlah umat pada saat itu sekitar 1.000 jiwa. Statistik mencatat jumlah umat tahun 1960 sebanyak 606 jiwa, dan 1968 sebanyak 1.607 jiwa. Dari akumulasi baptisan diketahui jumlah terbaptis sebanyak 1.010 jiwa.

8

Gbr 8. Gereja sementara (sekarang gedung pastoran) menunggu gereja utama selesai dibangun
9

Gbr 9. Pemberkatan gereja sementara oleh Uskup Mgr Meekelhot, SCJ.
10

Gbr 10. Gereja baru di Jl Raden Mattaher yang diresmikan 12 Juli 1964 oleh Uskup Palembang Mgr Joseph Soudant, SCJ

Tokoh-tokoh yang berjasa dalam pembangunan gereja baru ini antara lain: Kolonel Tom Badilangoe (alm) dan Kapt. CPM. Sutrisno (alm) yang mengawal keamanan dan keselamatan gereja dari awal pembangunan sampai dengan pemberkatannya.

Desain gereja dirancang oleh Langenhardjo (alm), seorang arsitek terbaik di Jambi saat itu. Dalam buku baptis LB II halaman 59 nomor 471, beliau tercatat dipermandikan oleh Pastor Hoogeboom pada tanggal 24 Desember 1959 dengan nama permandian Raphael.

Sekelumit cerita tentang desain, bahwa gereja dirancang sedemikian rupa, dengan balkon di bagian depan serta di samping kiri dan kanan. Pastor Hoogeboom bermaksud agar pada saat Misa Kudus, kor terdiri dari umat sebagai penyanyi sopran menempati kursi umat, sedang balkon kiri, kanan, dan depan adalah untuk suara alto, tenor, dan bas. Selain itu, di depan altar dibangun kolam yang dimaksudkan untuk pembabtisan. Namun kolam itu hanya beberapa saat kemudian dibongkar.

11

Gbr 11. Gereja St Teresia Jambi Tahun 1985
12

Gbr 12. Foto Bersama di depan gereja
13

Gbr 13. Bagian pendopo depan dibangun untuk menambah kapasitas gereja
14

Gbr 14. Pendopo depan gereja dari sisi lain