Umat Katolik Indonesia Sampaikan Duka Cita Kepada Korban Penembakan di Masjid Selandia Baru

Konfrensi Waligereja Indonesia (KWI) mengecam keras penembakan di Masjid Al Noor  di Christchurch dan Linwood Islamic Center di pinggiran Linwood, Selandia baru, Jumat (15/3). KWI dan seluruh umat Katolik Indonesia menyampaikan dukacita yang mendalam kepada para korban dan keluarga korban.

Dalam pernyataan sikapnya, Ketua KWI Mgr. Ignatius Suharyo menegaskan bahwa tindakan brutal yang menewaskan 40 orang tersebut sungguh-sungguh tidak beradab dan sangat bertentangan dengan nilai-nilai agama apapun dan nilai-nilai kemanusiaan universal.

KWI dan umat Katolik Indonesia mendesak agar pelaku diproses hukum sesuai dengan hukum yang berlaku di Selandia Baru. KWI menghimbau dan berharap agar tragedi di Selandia Baru ini tidak merusak hubungan antar umat beragama dan antar etnis yang berbeda-beda terutama di Indonesia yang selama ini sudah terjalin baik.

Aksi Teror Terencana

Dilansir dari laman Kompas.com, Brenton Tarrant, pelaku penembakan di masjid di Christchurh, tidak asal dalam melakukan aksinya. Dalam manifesto berjudul “The Great Replacement”  yang dibuatnya sendiri setebal 74 halaman itu, terungkap teroris asal Grafton, Australia ini telah merencanakan aksinya dua tahun sebelumnya.

Dalam manifesto tersebut, ia memperkenalkan diri sebagai anti-imigran dengan para korban disebutnya sebagai “sekelompok penjajah”.

Selain di Christchurch, penembakan juga terjadi di Masjid Linwood yang berjarak lima kilometer dari Masjid Al Noor. Korban tewas  akibat berondongan peluru ini mencapai 49 orang dan puluhan lainnya luka-luka. Seorang WNI bernama Zulfirman Syah diketahui juga menjadi korban dalam peristiwa ini.  Zulfirman seorang pelukis asal Minang yang tergabung dalam Sakato Art Community yang berbasis di Yogyakarta. Ia diketahui baru pindah dua bulan ke Selandia Baru.

Jangan Sebarkan Video

Polisi Selandia Baru menyatakan pihaknya telah menangkap empat orang yang terdiri dari tiga laki-laki dan satu perempuan, beberapa jam setelah aksi penembakan dengan senapan serbu itu. Di dalam mobil yang dinaiki keempat teroris tersebut ditemukan bom rakitan yang telah dinetralisir militer.

Pelaku dalam menjalankan aksinya sambil merekam video dan disiarkan secara langsung di media sosial Facebook. Dalam video tersebut terlihat pelaku menembaki umat yang sedang sholat Jumat. Polisi Selandia Baru meminta agar para pengguna media sosial tidak menyebarluaskan video tersebut.

Sejumlah tokoh Islam menghimbau hal yang sama. Penyebaran video akan menimbulkan rasa takut di berbagai belahan dunia yang memang menjadi tujuan teroris.

(L Andreas Sarwono)