SURAT GEMBALA HARI ORANG MUDA SEDUNIA (HOMS) 2021

SURAT GEMBALA
HARI ORANG MUDA SEDUNIA (HOMS) 2021
NO. : 299/Dio.KAPal/X/2021
ORANG MUDA MENGHIDUPI DUNIA


Kita merayakan Hari Orang Muda Sedunia tahun 2021 ini di tengah perjalanan Gereja Universal mengadakan Sinode. Jika kita menyimak baik-baik, siluet orang-orang pada Logo Sinode Gereja Universal, gambar orang muda lebih banyak dan menyebar di antara gambar orang-orang yang berusia berbeda. Ini mengindikasikan bahwa orang muda Gereja mendapatkan perhatian khusus dan undangan untuk berpartisipasi dalam setiap sudut kehidupan manusia.


Tuhan bersabda, “Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah” (Luk 7: 14). Bangkitlah dan jangan tidur apalagi mati. Hidupmu bermakna. Jangan menyia-nyiakan hidupmu. Tuhan sendiri tidak ingin engkau mati, seperti jelas Tuhan membangunkan pemuda dari Nain itu.
Bangkitlah dan berpartisipasilah dalam membangun kehidupan bersama. Di lingkungan, stasi, paroki, sampai tingkat negara dan dunia, Tuhan membangunkanmu dengan berbagai cara,langsung maupun tidak langsung. Tetapi engkau sendiri harus mau bangkit, jika hidupmu ingin
bermakna. Sebab digoyang-goyang sekuat apapun, dengan berbagai acara dan pembinaan, jika engkau sendiri tidak mau bangun, jika engkau tetap cuek, engkau tetap tidak akan berubah dan maka akan tetap mati.
Saya sungguh yakin, jika kaum muda Gereja, baik di paroki maupun di stasi aktif dan sering mengadakan kegiatan-kegiatan bersama, Gereja kita akan hidup. Kehidupan umat pun akan nampak rukun dan menyenangkan. Itu adalah sinyal bahwa kaum muda paroki/stasi itu mempunyai kehidupan kerohanian dan moral yang baik. Tetapi bukan hanya itu. Apa yang
dihidupi oleh kaum muda adalah sekaligus sinyal bahwa kehidupan iman dan moral umat paroki/stasi itu juga baik. Masih lebih jauh lagi: ada kehidupan penuh kedamaian dan persaudaraan di antara umat, saling mengenal dan memiliki solidaritas tinggi, dan akhirnya mereka akan bangga sebagai orang Katolik. Semua itu ada di pundak kaum muda.
Kaum muda Gereja, bangkitlah. Engkau adalah pemegang kendali kehidupan Gereja masa kini sekaligus Gereja masa depan. Engkau dan kehidupan anda adalah juga kunci dan cermin kehidupan umat dan kehidupan masyarakat kita. Sayangi dan peliharalah baik-baik hidupmu, iman dan moralmu, sebab sesungguhnya engkau sedang menghidupi masyarakat kita.


Engkau sehat lahir bathin, masyarakat akan sehat lahir dan bathin juga.
Bapa Suci mengatakan, “Ketika seorang muda terpuruk, dalam berbagai hal kemanusiaan juga terpuruk. Sebaliknya, benarlah ketika seorang pemuda bangkit, maka seluruh dunia juga akan bangkit. Orang muda, betapa besar potensi yang kamu miliki di tanganmu! Betapa besar kekuatan yang kamu miliki dalam hatimu! … apabila dunia kita ingin bangkit, ia membutuhkan
kekuatan, antusiasme dan gairahmu”.1 Ingatlah ketika Yesus menggandakan 5 ketul roti dan 2 ekor ikan untuk 5000 orang (Yoh 6: 1 – 15), dari mana roti dan ikan itu didapat? Philipus pesimis akan situasi lapar para pendengar Yesus, “Roti seharga 200 dinar tidak cukup untuk mereka sekalipun mereka mendapat sepotong kecil saja”. Andreas walau juga pesimis tetapi mengatakan, “Di sini ada seorang anak yang mempunyai 5 roti jelai dan 2 ikan”. Yesus lalu menggandakannya. Dan semua makan
sampai kenyang, bahkan tersisa 12 bakul penuh. Jika pemuda rela berbagi, semua menjadi sejahtera dan bahkan berkelimpahan.

Mukjizat itu tidak harus dipahami bahwa Yesus menurunkan makanan dari langit. Lebih sederhana dipahami bahwa setelah pemuda itu mengeluarkan bekal, semua menjadi malu dan mengeluarkan bekalnya masing-masing. Hanya para pemuda yang rela dan berani bertaruh untuk
masa depannya. Dia tidak egois. Dia tidak memikirkan dirinya sendiri. 5 roti jelai dan 2 ikan itu adalah bekal makannya dalam perjalanan. Dia akan makan apa kalau roti dan ikan itu diberikan pada Yesus? Ternyata dia tidak peduli dia akan makan apa. Yang dia pikirkan adalah di dalam Yesus, dia harus berbagi hidup dengan orang yang membutuhkan.

Dalam kisah tersebut, para orang tua, bisa saja juga membawa bekal. Namun mereka tidak mau mengeluarkan dan berbagi dengan orang lain. Mereka memikirkan dirinya dan keluarga serta anak-anak mereka. Para orang tua di manapun memikirkan kesejahteraan keluarganya. Mereka bahkan sering harus mengumpulkan sebanyak-banyaknya untuk diri dan
keluarganya. Itu tidak salah. Yang salah adalah mentalitas kemapanan dengan membangun lumbung tanpa peduli dengan tetangga kiri dan kanan (Luk 12: 13 – 21). Pemuda yang tidak mementingkan dirinya sendiri, menghidupi dan menyelamatkan masyarakat dan bangsanya.
Ingatlah bahwa engkau adalah muid-murid Kristus. Kita tahu, Kristus memulai Gerejanya ini hanya dengan 12 orang rasul. Keuskupan kita pastilah mempunyai ribuan pemuda/pemudi. Kita sungguh luar biasa. Kita pasti akan bisa berbuat banyak, baik untuk Gereja kita maupun untuk masyarakat kita.


Yesus mengembalikan pemuda Nain yang dihidupkan oleh-Nya kepada ibunya. Saya yakin Yesus menyerahkan pemuda itu kepada ibunya memakai kata-kata (walaupun Injil tidak mencatatnya). Ingat kata-kata Yesus di atas salib? Kepada Yohanes, rasul yang paling muda,
Yesus berkata, “Itulah ibumu”. Dan kepada Maria, Dia berkata, “Itulah anakmu”.


Saya juga ingin mengembalikan Anda, kaum muda, kepada Bunda Gereja. Gereja adalah tempat engkau lahir sebagai murid-murid Yesus. Kepadamu, saya ingin mengulangi kata-kata Yesus, “Lihatlah Gerejamu, itulah ibumu”. Jaga dan cintailah ibumu. Jangan tinggalkan dia. Sesederhana bagaimanapun, seorang ibu adalah tetap seorang ibu. Gereja, yang adalah ibumu, sangat menyayangimu. Tetaplah dalam pangkuan ibumu, Gerejamu, baik secara fisik maupun secara spiritual. Sebab jika engkau meninggalkan ibumu, baik secara fisik apalagi spiritual,
hidupmu tidak akan tentram. Secara fisik, maksudnya jangan nyebrang ke mana-mana, jangan “lompat pagar”. Lahir dalam Gereja, menikah dalam Gereja, memelihara keluarga dalam Gereja, meninggal dalam pangkuan Gereja. Aktif lah ambil bagian dalam kegiatan-kegitan Gereja.

Secara spiritual: jangan meninggalkan Tuhan dan ajaran-Nya melalui Gereja-Nya. Setialah pada Tuhan yang telah menebusmu. Jadilah pemuda-pemudi yang membaggakan keluarga dan Gereja karena engkau hidup benar, suci, adil dan jujur, penuh semangat dan pantang putus asa, anti narkoba, anti free seks, anti korupsi, anti mencuri atau merampok, anti
jalan pintas dan main serobot. Yesus akan sangat bangga jika kaum muda memiliki iman yang sangat teguh kepada-Nya (bdk. Mat 8: 10; Luk 7: 9).
Kaum muda yang terkasih, engkau harus tahu hal-hal ini: sebagian besar panitia Konggres Sumpah Pemuda 1928 adalah orang muda Katolik. Ignatius Slamet Riyadi adalah salah satu penggagas berdirinya Kopassus. Kita mempunyai pahlawan di setiap matra: Ig. Slamet Riyadi (Darat), Kom. Yos Sudarso (Laut), Adi Sucipto (Udara).

Orang muda Katolik adalah orang-orang yang memiliki mentalitas juang untuk kebaikan bersama. Kalau kita yang sedikit ini berani memulai, kita akan dapat mempegaruhi Indonesia yang besar. Harus ada yang memulai
untuk Indonesia yang bermartabat. Mari mulai dari diri kita.
Jadi janganlah kamu ragu-ragu untuk berkontribusi pada sejarah negeri ini. Generasi muda Katolik sekarang harus tetap memikirkan Indonesia, melanjutkan para pendahulu kita. Kita harus tetap bangga menjadi bangsa Indonesia. Negeri ini tidak pantas hanya dijadikan tanah jarahan oleh para koruptor. Anda sekalian bisa membangunnya menjadi negeri dan bangsa yang bermartabat.


Terakhir, secara khusus saya ingin menyapa para romo, suster, dan frater serta bruder. Pilihan hidupmu adalah kebanggaan Gereja. Anda juga kebanggaan kaum muda. Mereka melihatmu sebagai teladan dalam iman dan kehidupan. Jadilah tetap sebagai teladan dalam bersaksi mengenai kebenaran dan keselamatan.
Kaum muda terkasih, jika engkau hidup benar, engkau telah bersaksi kepada dunia bahwa engkau adalah murid-murid Kristus.


Palembang, 28 Oktober 2021,
Mgr. Yohanes Harun Yuwono
Uskup Keuskupan Agung Palembang

Please follow and like us: